Monday, June 24, 2019

Temani Aku Bahagia, Temani Aku Menderita

kepada tuan yang sederhana
tapi terlihat rumit dari mataku;

bantu aku meraba semesta
sebab aku masih buta
belum bisa membeda
mana luka, mana bahagia

lantaran seringnya
rasaku tak bisa merasa
dunia masih tanda tanya
hari ini kutertawa
besoknya kuratapi derita
hari ini kumelangit tinggi
besoknya kuterempas dalam

ajari aku cara mengecap hidup
aku tak bisa membeda
antara madu dan empedu
sebab seringnya
ketika kukecup kuntum bibirmu
berbagai rasa bersatu-padu

sesaat aku tergelak keras
lalu menangis karena cemas
sesaat aku merasa hangat
lalu menggigil karena kedinginan

bimbing aku mengenali warna
sebab pada teduhnya matamu
kadang terlalu abu-abu
kadang terlalu ramai oleh pelangi
kadang terlalu silau bagai mentari

temani aku mengarungi samudera
genggam aku saat aku remaja
rangkul aku saat aku dewasa
peluk aku saat aku tua
lalu taburkan bunga
saat aku selesai dengan damai

buat aku mempercayai arti setia
jangan berpindah
sebab akulah rumah
jangan jenuh
sebab aku tanpamu takkan utuh


—v-cyrrius
#KepadaRe
#vcyrrius

Genggaman Paling Hangat

manusia terlahir begitu saja tanpa bisa memilih lahir di habitat yang bagaimana. masing-masing dari kita tumbuh besar dengan berbagai benturan yang berbeda.

aku pernah mencari kebahagiaan dengan keras kepala; jatuh lalu bangkit lalu jatuh lagi, ditarik lalu diulur lalu ditarik lagi. begitu terus sampai air mataku kering kerontang, sampai kakiku terpincang-pincang. yang pada akhirnya, aku patah dan menyerah. aku menjadi bagian dari orang-orang yang putus asa. harapku redup, mimpiku mati. aku menangis sampai kesakitan sendiri.

tapi, ada seorang yang kehadirannya mengajarkanku banyak hal. tentang bagaimana caranya mensyukuri keberuntungan kecil, menikmati semesta dengan cara yang sederhana, menertawai lelucon konyol, mencintai diri sendiri, berdamai dengan masa lalu, dan masih banyak lagi. ia menuntunku menjadi orang yang pandai berlapang dada.

pertemuan dengannya membuatku tidak mau mati sebelum menjadi perempuan baik. ia adalah jawaban dari Tuhan atas tuntutanku mengenai keajaiban. ia seperti kunang-kunang terang yang memberiku jalan di tengah pekat. seperti bangunan kokoh yang memberi izin untukku berteduh, usai masa silamku runtuh jua hangus terlalap sesal dan dendam.

sebab bersamanya, sama dengan melumpuhkan tangisku yang kemarin. menguburnya rapat-rapat. ditarik tanganku olehnya. aku bangkit, lalu dunia menyambut kelahiran aku yang baru. aku yang kepalanya sudah kembali terisi penuh dengan cita-cita. yang hatinya kembali hidup.

untuk kalian yang masih nyaman dengan keredupan semesta, yang masih terlarut airmata, pesanku satu; jangan lama-lama. nanti wajahmu bengkak, matamu sebesar tomat. ingat bahwa masih ada yang menyayangimu, yang membutuhkan keberadaanmu.

karena semua orang pantas berbahagia.


—v-cyrrius // #vcyrrius

Perihal yang Disembunyikan

Aku takut kamu merasa sial sebab dicintai perempuan sesederhana aku. Aku takut suatu waktu bakal tumbuh penyesalan pada hatimu—sebab ia bodoh perihal memilih kekasih hati. Aku takut kamu mudah melupa sebab aku terlalu biasa. Sedangkan nanti, aku bisa sekian tahun berlarut-larut sendiri. Aku takut gagal lagi. Aku takut patah hati lagi.

Aku letih menahan cemas. Aku jenuh lantaran sering sesenggukan sendiri tanpa karena. Entahlah. Aku juga tak menyangka bakal seberlebihan ini. Sebegitu dalam cintaku, sampai tiba-tiba, aku merencanakan mati jika nanti kamu pergi mengempaskan aku pada jurang gelap yang sepi.

Bukannya aku tak mau menikmati kebersamaan kita yang sungguh adalah sebuah anugerah. Aku cuma berusaha tahu diri. Lelaki sesempurna kamu, mana pantas bersanding dengan aku.

Bukannya aku mengeluh. Aku tak keberatan, bahkan masih sangat sudi menahan sesak kala melihat kamu mengelak tiap teman-teman bertanya mengenai hubungan kita. Tak masalah. Aku bakal setia disembunyikan, bakal setia tersenyum dari kejauhan, menatapmu yang tertawa sebab banyak sorakan dari pengagummu yang luar biasa itu.

Tahukah? Tiap malamku, habis cuma untuk bersedu. Memohon pada bintang jatuh supaya kamu jangan cepat-cepat pergi. Supaya jalin kita jangan cepat-cepat usai. Tiap malam pula aku merenungkan yang terjadi. Tentang bagaimana aku disembunyikan. Tentang kehadiranku yang kamu abaikan, padahal aku kekasihmu.

Aku tetap sejahtera. Ingatan saat kamu mengecup keningku adalah yang sampai kini membuatku kuat. Kamu berkata cinta. Kamu meminta maaf. Kamu mendekapku. Kamu mengungkit reputasi. Kamu memaksaku untuk mempercayaimu. Dan aku manut.

Kini aku hanya ingin mencintaimu tanpa lupa bahwa kita adalah sepasang kekasih, yang masing-masing akan menjadi asing ketika ramai.


—v-cyrrius #vcyrrius

Menggantung Doa di Pelupuk Mata

kamu pun mafhum. bayi burung tidak ditenggelamkan ke dalam air, hanya untuk memberitahu bahwa yang ia bisa adalah terbang mengudara. anak katak tidak dipaksa bergelayut di ranting pohon, hanya untuk memberitahu bahwa yang ia bisa adalah melompat cepat. kita perlu memahami jati diri kita, sebelum akhirnya siap melangkah; menjadi orang hebat. sayangnya, sedari awal, aku kehilangan milikku. jati diriku kumaknai sebagai tanda tanya besar yang jawabannya mustahil kutemukan. seperti, aku menyelam padahal aku seekor burung. atau aku menggali tanah padahal aku seekor unta. atau aku memanjat pohon padahal aku seekor domba. aku bersikeras mengemis kebahagiaan tanpa tau apa yang bisa membuatku bahagia. lihat akibatnya. aku lebam. babak belur. nyaris hancur.

benar katamu dulu. pengrusak hidupku adalah diriku sendiri. tapi percayalah, manis. semesta belum berhenti berputar. segalanya masih bisa berpindah tempat, bertukar posisi. aku kian mengimani itu lantaran skenario Tuhan mengantarku kepadamu. aku yang dulu putus asa, aku yang dulu mendamba kematian, kini tak ingin mati sebelum menjadi perempuan baik. kamu penyelamat. terima kasih.

aku mulai merasa beruntung saat mengingat beban apa saja yang Tuhan timpakan. dari aku lahir di keluarga yang sedemikian, sampai aku tersesat di belantara. aku mulai merasa mensyukuri segala gagal dan jatuhku. sebab, jika satu kejadian terlewati, belum tentu aku menjumpaimu. jika satu langkahku berbeda, belum tentu aku berkesempatan menjadi perempuan yang sudi kamu cintai. andai waktu bisa kuulang pun, tak akan ada apa-apa yang kuubah. karena bagiku, takdir Tuhan yang ini sudah paling baik.

manisku, kumohon. kenanglah aku selalu, meski yang kamu persunting di kemudian hari bukan aku. sampai anakmu tumbuh besar, bahkan sampai kamu beruban dan bercucu. ingat aku sebagai penyandang nama malaikat kecilmu; sebagai perempuan yang pernah kamu selamatkan dunianya. ingat aku sebagai manusia yang pernah bertekad menyeruakkan rasa bangga pada rongga dadamu. ingat aku sebagai sosok yang pernah merajut mimpi untuk hidup bersamamu, dan yang selalu mengamini tiap doa dalam ucap kita di penghujung malam.

kala tiba masanya, semisal perpisahan merupakan hilir dari segala juang kita, jangan pernah menyesali segala yang telah kamu korbankan. letih dan haus pada selesainya ujung nasihatmu tidak pernah sia-sia. tak ada kesalahan dari apa yang telah kita lalui. kala tiba masanya, semisal perempuan beruntung yang diperuntukkan berkhidmat padamu ternyata bukan aku, jadilah orang yang makin pandai bersabar. yakinlah bahwa kamu 'kan lebih mudah bahagia, jika kamu membantu orang lain berbahagia.

tahukah? aku ketakutan. dan oleh ketakutanku pula, semakin kuat doronganku untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik. aku akan berjuang untuk memantaskan diri menjadi perempuan yang siap bersanding, merengkuh lenganmu sembari menerima ucapan selamat dari para tamu. sebenarnya, butuh waktu lama untuk meyakini diriku sendiri, bahwa dipinang olehmu bukanlah sebuah kemustahilan. kendati yang sedang kubicarakan adalah rahasia Tuhan, tiada salahnya jika kuperjuangkan semampuku. semoga aku pantas. aku akan membenahi diri, manis, sekaligus menyiapkan hati jika ternyata harapku tak dimakbul.

sudah cukup kubahas masa depan. kini, tolong terima permohonan maaf dariku; kekasihmu yang masih jauh dari kata sempurna. jangan lelah dulu. kelak, keringat dari perjalanan panjang kita akan berbuah manis.

segitu dulu, manis. jangan lupa simpan surat ini.


v-cyrrius // #vcyrrius

Merayakan Pesta di Neraka Kecilku

Tiadakah sepercik iba pada dadamu waktu memandang perempuan yang kemarin silam tergelak bahagia, namun kini malah diamuk air mata yang bandang? Sekejap saja kuminta kau menengok aku, perempuan menjijikan yang sudi mengemis dan terseok kepincangan, memohon untuk kiranya tetap dicintai.

Atas apa kau berani tega memutus harap bersoal mimpiku yang adalah mimpimu sendiri? Sesak sukmaku bilamana kau keringkan kenang kita sampai kerontang, yang sekaligus menghujami batinku dengan tombak berlumur rasa putus asa.

Sayangku! Selebat apa rasa jenuh yang merambati hatimu? Selelah apa tapak kakimu menjejak kisah? Betapa kuingin mengoyaknya, menghabisi jenuh dan lelahmu, biar tercecar segala halang perih yang maha pandai menyekat kau dan aku. Kemudian kita bakal menari membelah malam, diiringi sunyi senyap yang melirih harap. Mendekap sesama sampai maut akhirnya tiba.

Aku betul-betul merindukan kita yang semangat merajut angan dan ingin. Aku rindu disiksa gelora dada yang membeludak tiap kau daratkan kecup di sekujur tubuhku. Aku rindu kita yang dulu, yang genggamnya ogah dilepas. Betapa kubenci pada keresahan yang kian hari kian menggila, mencekikku sampai aku keperihan. Sedang kau malah sejahtera sebab sekejap lagi menjadi asing denganku.

Sebut aku egois dan keras kepala. Tak mengapa. Sebab tentang mencintaimu, aku bersungguh-sungguh.


—v-cyrrius