Monday, June 24, 2019

Merayakan Pesta di Neraka Kecilku

Tiadakah sepercik iba pada dadamu waktu memandang perempuan yang kemarin silam tergelak bahagia, namun kini malah diamuk air mata yang bandang? Sekejap saja kuminta kau menengok aku, perempuan menjijikan yang sudi mengemis dan terseok kepincangan, memohon untuk kiranya tetap dicintai.

Atas apa kau berani tega memutus harap bersoal mimpiku yang adalah mimpimu sendiri? Sesak sukmaku bilamana kau keringkan kenang kita sampai kerontang, yang sekaligus menghujami batinku dengan tombak berlumur rasa putus asa.

Sayangku! Selebat apa rasa jenuh yang merambati hatimu? Selelah apa tapak kakimu menjejak kisah? Betapa kuingin mengoyaknya, menghabisi jenuh dan lelahmu, biar tercecar segala halang perih yang maha pandai menyekat kau dan aku. Kemudian kita bakal menari membelah malam, diiringi sunyi senyap yang melirih harap. Mendekap sesama sampai maut akhirnya tiba.

Aku betul-betul merindukan kita yang semangat merajut angan dan ingin. Aku rindu disiksa gelora dada yang membeludak tiap kau daratkan kecup di sekujur tubuhku. Aku rindu kita yang dulu, yang genggamnya ogah dilepas. Betapa kubenci pada keresahan yang kian hari kian menggila, mencekikku sampai aku keperihan. Sedang kau malah sejahtera sebab sekejap lagi menjadi asing denganku.

Sebut aku egois dan keras kepala. Tak mengapa. Sebab tentang mencintaimu, aku bersungguh-sungguh.


—v-cyrrius

No comments:

Post a Comment