Monday, June 24, 2019

Genggaman Paling Hangat

manusia terlahir begitu saja tanpa bisa memilih lahir di habitat yang bagaimana. masing-masing dari kita tumbuh besar dengan berbagai benturan yang berbeda.

aku pernah mencari kebahagiaan dengan keras kepala; jatuh lalu bangkit lalu jatuh lagi, ditarik lalu diulur lalu ditarik lagi. begitu terus sampai air mataku kering kerontang, sampai kakiku terpincang-pincang. yang pada akhirnya, aku patah dan menyerah. aku menjadi bagian dari orang-orang yang putus asa. harapku redup, mimpiku mati. aku menangis sampai kesakitan sendiri.

tapi, ada seorang yang kehadirannya mengajarkanku banyak hal. tentang bagaimana caranya mensyukuri keberuntungan kecil, menikmati semesta dengan cara yang sederhana, menertawai lelucon konyol, mencintai diri sendiri, berdamai dengan masa lalu, dan masih banyak lagi. ia menuntunku menjadi orang yang pandai berlapang dada.

pertemuan dengannya membuatku tidak mau mati sebelum menjadi perempuan baik. ia adalah jawaban dari Tuhan atas tuntutanku mengenai keajaiban. ia seperti kunang-kunang terang yang memberiku jalan di tengah pekat. seperti bangunan kokoh yang memberi izin untukku berteduh, usai masa silamku runtuh jua hangus terlalap sesal dan dendam.

sebab bersamanya, sama dengan melumpuhkan tangisku yang kemarin. menguburnya rapat-rapat. ditarik tanganku olehnya. aku bangkit, lalu dunia menyambut kelahiran aku yang baru. aku yang kepalanya sudah kembali terisi penuh dengan cita-cita. yang hatinya kembali hidup.

untuk kalian yang masih nyaman dengan keredupan semesta, yang masih terlarut airmata, pesanku satu; jangan lama-lama. nanti wajahmu bengkak, matamu sebesar tomat. ingat bahwa masih ada yang menyayangimu, yang membutuhkan keberadaanmu.

karena semua orang pantas berbahagia.


—v-cyrrius // #vcyrrius

No comments:

Post a Comment